Usia semakin berkurang seiring dengan perjalanan waktu malam dan siang, sementara segala amalan akan tersimpan dan kematian akan segera datang secara tiba-tiba (Abdullah bin Mas'ud)
Tidak ada yang lebih aku sesali dari pada penyesalanku terhadap hari dimana ketika matahari tenggelam, sementara umurku berkurang tetapi amalku tidak bertambah (Abdullah bin Mas'ud).
Jumat, 13 Januari 2012
Kisah Imam Ahmad bin Hambal
Kisah Khalifah Abdul Malik bin Marwaan
Kisah Muadzdzin
Sumber : http://www.firanda.com/index.php/artikel/6-sirah/172-sebagaimana-engkau-menjalani-hidupmu-demikianlah-kondisimu-tatkala-ajal-menjemputmu
Kisah Penumpang Kapal Mesir “Salim Express”
Kisah Aamir bin Abdillah Az-Zubair
Diapun berkata, “Pegang tanganku ke mesjid…!!”
Merekapun berkata, "Engkau dalam kondisi sakit !" ,
Diapun berkata,”Aku mendengar muadzin mengumandangkan adzan sedangkan aku tidak menjawab (panggilan)nya? Pegang tanganku…!
Maka merekapun memapahnya lalu iapun sholat maghrib bersama Imam berjama'ah, diapun shalat satu rakaat kemudian meninggal dunia. (Lihat Taariikh Al-Islaam 8/142)
Rabu, 14 Desember 2011
Buah Pengorbanan Sang Pengembara
Sabtu, 19 Maret 2011
Urgensi Tauhid
Tersebutlah seorang syaikh yang telah menulis sebuah kitab yang menjelaskan tentang urgensi tauhid. Dia menjelaskannya kepada para muridnya dan terus mengulang-ulang pembahasannya. Suatu hari murid-muridnya berkata, “Wahai Syaikh, kami berharap Anda mau mengganti pelajaran yang Anda sampaikan kepada kami dengan materi-materi yang lain, seperti kisah, sirah, dan sejarah.
Syaikh itu menanggapi, “Insya Allah akan saya pertimbangkan.” Keesokan harinya dia keluar menemui murid-muridnya dengan wajah yang menyiratkan kesedihan dan beban pikiran. Merekapun bertanya tentang hal yang menyebabkan beliau bersedih. Dia menjawab, “Aku mendengar bahwa seorang warga kampung tetangga menempati rumah baru, dia merasa takut diganggu jin, lalu dia menyembelih seekor ayam jantan di ambang pintu untuk mendekatkan diri kepada jin, dan aku telah mengirim seseorang untuk mencari kebenaran berita tersebut.”
Ternyata para muridnya tidak bereaksi apapun mendengar berita tersebut. Mereka hanya berdoa memintakan hidayah bagi orang tersebut, dan mereka hanya terdiam.
Keesokan harinya syaikh kembali menemui mereka, dan berkata: “Kami telah mendapatkan kejelasan berita tersebut, ternyata peristiwanya tidak seperti yang aku dengar. Lelaki tersebut tidak pernah menyembelih seekor ayam jantan untuk mendekatkan diri kepada jin, tapi yang dilakukannya adalah berzina dengan ibunya.”
Kontan mereka gempar dan marah. Mereka mencaci-memaki dan mengoceh banyak. Mereka berkata, “Perbuatannya harus digugat, dia harus dinasihati, dia harus dihukum.” Dan banyak lagi umpatan mereka.
Kemudian syaikh berkata, “Sungguh aneh kalian ini. Begitukah reaksi kalian mengingkari orang yang terjerumus dalam satu perbuatan dosa besar padahal perbuatan itu tidak mengeluarkan nya dari Islam. Tapi kalian tidak mengingkari orang yang terjerumus dalam kemusyrikan, menyembelih untuk selain Allah Azza wa Jalla, dan mengalamatkan ibadah kepada selain Allah Azza wa Jalla?”
Murid-muridnya terdiam. Kemudian syaikh menunjuk salah seorang dari mereka sambil berkata, “Bangun dan ambilkan kitab tauhid, kita akan membahasnya dari awal!” Syirik adalah dosa yang paling besar. Allah Azza wa Jalla tidak mengampuni perbuatan syirik selamanya selagi pelakunya tidak mau bertaubat.
Allah Azza wa Jalla berfirman: “sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar.” (QS Luqman (31) : 13)
Dan surga diharamkan bagi para pelaku kemusyrikan. Kaum musyrikin akan kekal selamanya dalam neraka.
Allah Azza wa Jalla berfirman:“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” (QS
Al-Ma’idah (5) : 72)
Dan barangsiapa berbuat syirik, maka kemusyrikannya akan menghancurkan semua ibadahnya, shalatnya, puasanya, hajinya, jihadnya dan sedekahnya.
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu : "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Az-Zumar [39] : 65)
Sumber: Irkab Ma’anaa (terjemahan Indonesia: Bahtera Tauhid; Kumpulan Hikmah dan Kisah seputar Tauhid) oleh: Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-Ariifi, Penerbit: At-Tibyan, hal. 40 -43.
Disalin Dari : Untaian Mutiara Hikmah Vol 1/I, Edisi Juni 2009
http://www.raudhatulmuhibbin.org/
Sehingga Aku Menyesal
Mush’ab bin Muhammad bin Mush’ab berkata, Abu Muhammad al-Marwazi datang ke Baghdad, dia hendak menunaikan ibadah haji ke Makkah, aku ingin menyertainya dalam perjalanannya ini, aku menemuinya dan meminta izin menyertainya namun dia tidak mengizinkanku di tahun tersebut.
Setahun kemudian dia datang lagi dan aku memintanya berkenan mengizinkanku menyertainya, kali ini dia menjawab, “Dengan syarat, salah seorang dari kita menjadi pemimpin bagi yang lain dan yang dipimpin tidak boleh membantah.” Maka aku berkata kepadanya, “Engkaulah yang menjadi pemimpin.” Dia menjawab, “Engkau pemimpin.” Aku berkata, “Engkau lebih tua dan lebih berilmu.” Dia berkata, “Bila demikian maka jangan membantahku.” Aku menjawab, “Baik.”
Lalu kami berangkat, setiap kali waktu makan tiba, dia selalu mendahulukanku, bila aku menyatakan ketidaksetujuanku, maka dia berkata, “Bukankah aku sudah menetapkan syarat atasmu agar tidak membantah?” Hal ini berlangsung terus sehingga aku menyesal pergi bersamanya karena dia lebih mementingkan diriku daripada dirinya.
Suatu kali saat kami hampir masuk Makkah, hujan turun dengan deras, kami berteduh di bawah batu besar yang didirikan sebagai rambu bagi para musafir, dia memintaku duduk di pangkal batu, sementara dia sendiri berdiri membungkukkan badannya melindungiku dari hujan sehingga tubuh basah kuyup, melihat itu aku menyesal menyertainya dalam perjalanan ini, karena dia rela mengorbankan dirinya demi diriku dan aku tidak bisa membantahnya karena terikat dengan syarat yang kami sepakati sebelumnya. Peristiwa seperti ini terus terjadi dengan kami sampai kami masuk Makkah.
sumber:alsofwah
KISAH NYATA YANG MENGAGUMKAN
‘Ali bin ‘Abdullah ad-Farbi berkata : “Diantara cerita yang paling berkesan kepadaku adalah, ada empat orang dari salah satu lembaga bantuan (kemanusiaan) di Kerajaan Arab Saudi diutus untuk menyalurkan bantuan di pelosok hutan Afrika. Setelah berjalan kali selama empat jam dan setelah lelah berjalan, mereka (4 orang utusan ini, pent.) melewati seorang wanita tua di salah satu kemah dan mengucapkan salam kepadanya lalu memberikannya bantuan.
Wanita tua itu bertanya kepada mereka : “Kalian dari negara mana?”
Mereka pun menjawab : “Kami dari Kerajaan Arab Saudi.” Lalu wanita tua itu berkata : “Sampaikan salamku untuk Syaikh Ibnu Baz.”
Mereka bertanya, “Semoga Alloh merahmati Anda, bagaimana Ibnu Baz bisa mengenal Anda sedangkan Anda berada di lokasi yang terpencil dan jauh ini?”
Wanita renta itu menjawab : “Demi Alloh, sesungguhnya beliau (Syaikh Ibnu Baz) mengirimkan uang 1000 real kepadaku setiap bulan setelah aku mengirimkan sepucuk surat kepadanya untuk memohon bantuan dan pertolongan setelah (meminta) pertolongan Alloh Azza wa Jalla.”
Oleh : Abu Salma
(Tabloid Al-Madinah no 12182) Dialihbahasakan secara bebas dari : Kullassalafiyin
IMAM AL-BUKHARI
Mata al-Bukhari tidak bisa melihat sejak kecil. Suatu malam ibunya mimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam. Kemudian Nabi Ibrahim berkata, "Wahai Ibu, kini Allah telah mengembalikan penglihatan anak lelakimu dengan sebab seringnya ibu menangis dan berdoa." Benar, pada pagi harinya kami mendapati mata al-Bukhari tidak buta lagi.
Al-Bukhari mengisahkan dirinya sebagai berikut, "Ketika aku di usia menghafal al-Qur'an, aku sudah mulai pula menghafal hadits. Saat itu, ada yang bertanya kepadaku, 'Ketika itu berapa umurmu?' Aku menjawab, '10 tahun atau kurang sedikit.' Aku sudah menyelesaikan hafalan al-Qur'an pada usia 10 tahun. Suatu hari ada seorang Syaikh meriwayatkan sebuah hadits, katanya, 'Dari Sufyan, dari Abu Zubair dari Ibrahim.' Maka seketika itu aku katakan, 'Sesungguhnya Abu Zubair tidak pernah meriwayatkan hadits dari Ibrahim.' Maka dia mencelaku, lalu aku katakan padanya, 'Coba lihat ulang catatan aslinya.' Kemudian beliau masuk ruangan untuk mengecek ulang catatannya. Setelah keluar dari ruangan tersebut beliau bertanya kepadaku, 'Bagaimana yang benar wahai anakku?' Aku jawab, 'Dari az-Zubair bin Adi dari Ibrahim.' Lalu Syaikh tersebut mengambil pena dan menulis periwayatan hadits dariku serta mengoreksi tulisannya. Syaikh tersebut berkata, 'Kamu benar.' Ada yang bertanya kepada al-Bukhari, 'Berapa usiamu ketika membantah Syaikh tersebut?' Aku jawab, '11 tahun.'
Dan menjelang usia 16 tahun aku telah hafal buku-buku karya Ibnul Mubarak dan Waki’. Aku juga menguasai pendapat Ahlu Ra'yi. Hingga suatu ketika, aku, Ibuku dan adikku yang bernama Ahmad pergi ke Makkah. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, Ibu dan adikku pulang ke negeriku sementara aku tinggal di Makkah untuk belajar hadits." Sumber : Tahdzibul Kamal, 1169; as-Siyar, 12/393.
Dinukil oleh : Abu Thalhah Andri Abdul Halim
Sumber: www.alsofwah.or.id